

Tim Riset Ekonomi dan Industri BCA
Cadangan devisa Indonesia sedikit pulih menjadi USD 145.6 Miliar pada Juni 2026, dari titik terendah USD 144.9 Miliar bulan lalu. Pemulihan terutama didorong oleh arus masuk berbasis utang (Chart 2), khususnya investasi asing yang lebih tinggi dalam SRBI dan SBN, ditambah penguatan fundamental seperti harga minyak yang kembali ke level sebelum perang. Walaupun demikian, penurunan harga emas menekan USD 1.4 Miliar komponen emas dalam cadangan devisa.
Cadangan devisa tertekan selama dua bulan terakhir akibat kurangnya surplus perdagangan yang signifikan, terutama karena melonjaknya harga minyak dan pemangkasan produksi yang berdampak pada ekspor. Ini merupakan kerugian peluang yang disayangkan, mengingat terms of trade masih tinggi. Kedepannya, prospek ekspor masih belum pasti, bergantung pada kebijakan komoditas pemerintah. Walaupun impor minyak mungkin akan kembali normal, keseluruhan impor akan menghadapi tantangan akibat pengeluaran pemerintah yang berkelanjutan.
Di saat pasar saham terus mencatat arus keluar bersih, kondisi pasar obligasi berbalik setelah kenaikan suku bunga BI kedua bulan lalu, dengan imbal hasil SBN 10 tahun tetap konsisten di atas 7%. Arus masuk terbesar terus berasal dari SRBI, didorong oleh peningkatan penerbitan bersih dan imbal hasil yang hampir mencapai 7.7%. Dua penentu utama berikutnya adalah hasil dari penerbitan Panda Bond senilai USD 1 Miliar di akhir Juli ini dan perkembangan persepsi kondisi domestik dari lembaga pemeringkatan seperti S&P.
Namun, pertanyaan utamanya adalah: berapa biaya terkait kenaikan cadangan devisa ini? Pertama, jatuh tempo SRBI saja mencapai IDR 114 Triliun (~USD 6.3 Miliar) pada Juli ini, dengan tambahan IDR 300 Triliun (~USD 16.7 Miliar) yang jatuh tempo pada Q4. Kedua, daya tarik SRBI saat ini didukung oleh diskon biaya swap lindung nilai sebesar 10%, mengakibatkan kenaikan posisi swap valuta asing BI (Chart 3). Hal ini mengindikasi bahwa selain menanggung biaya bunga yang tinggi untuk SRBI, BI juga kehilangan pendapatan dari premi swap. Ketiga, kenaikan imbal hasil SBN dapat membebani pembayaran bunga pemerintah diatas 20% (dari pendapatan).
Risiko dari kebijakan yang berusaha maksimal menarik uang panas akan secara bertahap teratasi apabila tren likuiditas global membaik secara struktural, atau jika kebijakan moneter global berbalik arah mendadak karena beberapa faktor seperti pengangguran. Namun, saat ini BI kemungkinan perlu menaikkan suku bunga kebijakannya lagi tahun ini untuk menghadapi kenaikan imbal hasil yang akan dan sedangberlangsung.
Versi lengkap report ini (dan report sebelumnya) dapat diakses lewat link berikut: https://s.id/BCA_REI