

Tim Riset Ekonomi dan Industri BCA
Inflasi IHK Indonesia mencapai 3.34% YoY (0.44% MoM) pada Juni 2026, naik dari 3.08% YoY (0.28% MoM) pada Mei 2026. Peningkatan inflasi ini tidak mengejutkan, mengingat pelemahan Rupiah terus berlanjut yang menyebabkan harga impor meningkat dan harga minyak global yang masih tinggi di bulan lalu.
Harga yang diatur pemerintah mengalami kenaikan paling tajam (1.41% MoM, 3.42% YoY), didorong oleh antisipasi kenaikan harga bahan bakar non-subsidi karena penyempitan ruang fiskal dan permintaan musiman untuk tiket pesawat. Kontributor terbesar kedua terhadap inflasi bulanan adalah kelompok makanan (0.20% MoM, 4.67% YoY), terutama bawang merah dan bawang putih. Tekanan depresiasi Rupiah terlihat pada kenaikan harga bawang putih.
Inflasi inti masih melanjutkan tren kenaikan ke 2.76% YoY (dari 2.59% YoY pada Mei). Kenaikan inflasi inti disertai pelemahan harga emas mencerminkan peningkatan harga barang konsumsi non-komoditas, yang mana berkorelasi luas dengan percepatan pertumbuhan kredit pada Mei (11.51% YoY).
Mengingat komitmen pemerintah akan memanfaatkan dana SAL untuk mendorong pertumbuhan kredit, kita dapat berasumsi bahwa inflasi inti diprediksi akan tetap stabil atau meningkat selama enam bulan ke depan. Walaupun harga energi global telah turun tajam dari puncaknya, terdapat dua faktor yang mendorong kenaikan inflasi ke depan. Pelemahan Rupiah dapat berdampak lebih lanjut pada kenaikan harga barang domestik dan kemunculan El Niño dapat mendorong harga pangan lebih tinggi, sehingga menguji klaim pemerintah tentang pasokan biji-bijian yang melimpah.
Ketidakpastian terbesar adalah apakah pemerintah akan menyesuaikan kembali harga BBM non-subsidi setelah penurunan harga energi global. Penyempitan ruang fiskal dan tingkat nilai tukar saat inimenunjukkan pemerintah tidak dalam kondisi yang sama dengan kondisi sebelum perang.Namun, kita bisa berasumsi bahwa pemerintah akan menepati janjinya untuk mempertahankan harga bahan bakar subsidi.
Terkait latar belakang ini, risiko inflasi dan tekanan Rupiah yang berlanjut mungkin membuat BI mempertahankan posisi hawkish. Hal ini tercermin dari dua kali kenaikan suku bunga kebijakan yang masing-masing sebesar 25 bps pada Jun-26 dan penetapan yield SRBI di level 7,7% untuk stabilitas Rupiah. Kami memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 50 bps dari level saat ini sepanjang 2026.
Versi lengkap report ini (dan report sebelumnya) dapat diakses lewat link berikut: https://s.id/BCA_REI