

Perubahan iklim kini menjadi realitas yang secara langsung memengaruhi aktivitas ekonomi dan dunia usaha, tercermin dari meningkatnya cuaca ekstrem, kenaikan suhu global, hingga disrupsi rantai pasok yang kian mengintegrasikan risiko iklim dengan risiko bisnis. Bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati sekaligus tingkat kerentanan iklim, transisi menuju ekonomi rendah karbon bukan lagi sekadar pilihan strategis, melainkan kebutuhan untuk menjaga daya saing dan ketahanan ekonomi jangka panjang. Melalui peningkatan efisiensi, inovasi, dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, pergeseran ini menjadi bagian integral dari pembangunan nasional yang bertujuan memastikan pertumbuhan tetap berlangsung secara lebih responsif terhadap risiko iklim. Lebih dari itu, transisi ini membuka peluang bagi dunia usaha untuk mengadopsi kegiatan ekonomi rendah karbon dan ramah lingkungan yang tidak hanya memperkuat ketahanan operasional, tetapi juga menciptakan nilai tambah jangka panjang, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat terus tumbuh berkelanjutan.
Sejalan dengan arah tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengatur Klasifikasi Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KKUB) sebagai acuan bagi Lembaga Jasa Keuangan (LJK). Kerangka ini mencakup berbagai sektor prioritas yang berkontribusi terhadap keberlanjutan, termasuk kegiatan usaha berwawasan lingkungan, seperti energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, serta pembiayaan kepada UMKM, sehingga aliran pembiayaan dapat lebih terarah dan selaras dengan tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Dengan adanya pengelompokan ini, LJK memiliki dasar yang lebih jelas dalam mengidentifikasi aktivitas usaha yang relevan, baik dari sisi dampak lingkungan maupun kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Sehingga, dalam implementasinya, kerangka ini tidak hanya berfungsi sebagai panduan, tetapi juga menjadi referensi bagi Bank dalam melihat arah perkembangan pasar dan peluang pembiayaan ke depan. Perbankan berperan dalam menghubungkan kebutuhan pendanaan dengan transformasi sektor usaha yang sedang berlangsung, sekaligus memastikan bahwa alokasi modal dapat mendukung aktivitas bisnis yang lebih adaptif terhadap perubahan dan memiliki ketahanan dalam jangka panjang.
Sebagai bagian dari ekosistem tersebut, BCA senantiasa mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor-sektor yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Hal ini tercermin dalam portofolio pembiayaan berkelanjutan yang terus meningkat, mencapai Rp255,4 triliun pada tahun 2025, dengan Rp113,1 triliun di antaranya berada dalam kategori Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL). Angka ini menggambarkan upaya berkelanjutan Bank dalam mengarahkan pembiayaan ke aktivitas ekonomi yang tidak hanya relevan secara bisnis, tetapi juga memiliki ketahanan dalam menghadapi perubahan ke depan.
Komitmen ini juga tercermin dalam pengembangan skema pembiayaan seperti green loan dan sustainability linked-loan (SLL) di BCA. Green loan difokuskan pada pembiayaan proyek atau kegiatan usaha yang memberikan manfaat langsung terhadap lingkungan, seperti pada sektor energi terbarukan dan efisiensi energi, sementara skema SLL mengaitkan pembiayaan dengan pencapaian target keberlanjutan tertentu yang disepakati bersama dengan debitur. Melalui pendekatan ini, pelaku usaha dari berbagai sektor memiliki ruang untuk menyesuaikan strategi operasionalnya secara bertahap, seiring dengan integrasi aspek keberlanjutan dalam kegiatan bisnis.
Selain itu, penerapan prinsip keberlanjutan juga dilakukan melalui penyelarasan kebijakan dan proses pembiayaan, termasuk pertimbangan aspek lingkungan dalam analisis kredit serta penguatan tata kelola dan pelaporan. Pendekatan ini mendukung penyaluran pembiayaan yang lebih bertanggung jawab, sekaligus sejalan dengan perkembangan praktik keuangan berkelanjutan yang semakin relevan dalam dunia usaha.
Pada akhirnya, transisi menuju ekonomi rendah karbon merupakan upaya bersama. Pemerintah menetapkan arah kebijakan, pelaku usaha melakukan penyesuaian, dan sektor keuangan berperan memberikan dukungan pendanaan. Di sisi lain, perubahan ini juga membuka berbagai peluang baru bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk tumbuh secara lebih berkelanjutan, sehingga kolaborasi antar pemangku kepentingan menjadi kunci dalam mendorong terciptanya ekosistem ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif.
Sebagai bagian dari upaya membangun masa depan yang berkelanjutan, mari mengenal lebih jauh inisiatif keberlanjutan BCA serta perannya dalam mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui laman https://www.bca.co.id/id/tentang-bca/sustainability, sementara pelaku usaha juga dapat mengeksplorasi berbagai solusi pembiayaan melalui produk pinjaman bisnis BCA di https://www.bca.co.id/id/bisnis/produk/pinjaman-bisnis.
#BCAforSustainability
Sumber: Diolah dari berbagai sumber