

Tim Riset Ekonomi dan Industri BCA
Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit USD 1,61 miliar pada Mei-26 (vs surplus USD 89 juta pada Apr-26), yang juga menandakan berakhirnya surplus perdagangan beruntun selama 72 bulan. Pembalikan ini didorong oleh kontraksi ekspor (-8,30% MoM, -5,73% YoY) yang secara signifikan melampaui penurunan impor (-1,59% MoM, +22,16% YoY).
Penurunan ekspor sebagian didorong oleh CPO, yang mengalami penurunan 26,85% MoM. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti dampak cuaca, kenaikan harga pupuk (penggunaan berkurang, yang mempengaruhi produktivitas) dan perlambatan permintaan dari negara-negara besar seperti India, Tiongkok, dan AS. Komoditas lain yang juga mengalami penurunan antara lain besi dan baja (-4,54% MoM) serta mesin mekanik (-24,85% MoM), sementara ekspor batu bara memiliki kinerja positif (+10,49% MoM).
Sementara di sisi impor, kategori migas masih kuat meskipun mengalami sedikit normalisasi (-1,82% MoM), yang tetap menetapkan defisit yang besar pada neraca migas. Faktor lain yang berdampak terhadap penurunan impor bulanan merupakan jumlah hari kerja yang lebih sedikit, depresiasi mata uang (yang menjadi disinsentif untuk meningkatkan impor), dan permintaan musiman terhadap logam mulia (-45,87% MoM) setelah puncaknya pada periode sekitar Idul Fitri (Maret-April).
Secara tahunan, pertumbuhan impor akselerasi pada barang modal (12,7% YoY) dan bahan baku (25,2% YoY), sedangkan barang konsumsi melambat (22,0% YoY) dibandingkan pertumbuhan pada bulan April. Hal ini sejalan dengan lonjakan pertumbuhan kredit pada bulan yang sama, terutama didorong oleh kredit produktif.
Ke depannya, ekspor menghadapi beberapa hambatan. Pertama, dengan Fed yang lebih hawkish, dan serupa dengan bank sentral lainnya, permintaan global dapat melambat. Kedua, program biodiesel B50 yang bersifat mandatori dapat berdampak pada alokasi CPO untuk ekspor (selain dari faktor cuaca yang sedang berlangsung). Ketiga, ketidakpastian kebijakan mengenai pembatasan produksi (dan ekspor) terhadap komoditas seperti batu bara dan nikel. Keempat, "efek PT DSI" dapat berpengaruh terhadap data perdagangan tanggal Jun-26, meski untuk jangka menengah, masih terlalu banyak ketidakpastian mengenai penerapan sistem tersebut. Di sisi lain, pertumbuhan impor diperkirakan tetap berlanjut, didorong kuatnya belanja pemerintah yang kurang lebih mampu mengimbangi dampak depresiasi nilai tukar. Kombinasi faktor-faktor tersebut menciptakan siklus umpan balik yang mengarah pada pelemahan kembali nilai tukar rupiah, yang kami prediksi akan diatasi kebijakan peningkatan suku bunga acuan BI tambahan sebesar 50 bps tahun ini.
Versi lengkap report ini (dan report sebelumnya) dapat diakses lewat link berikut: https://s.id/BCA_REI